eDeposit
699 Koleksi ditemukan
Perjuangan A Mukhlis Komponis Musikus Dakwah
Penulis: Yusuf Abdullah Puar
In Sejarah dan Geografi, 920 - Biografi dan Asal - Usul, Buku
Untuk berkhidmat kepada Tanah Air dan Bangsa, orang dapat memberikan apa saja kekayaan yang ada pada dirinya. Persada Tanah Air akan menerima dengan tangan terbuka dengan tulus dan ikhlas segala pengurbanan itu, yang satu tidak kurang penting nya daripada yang lain. Kita ingin pengorbanan Sukarno- Hatta dengan "Proklamasi Kemerdekaan Indonesia" pada tanggal 17 Agustus 1945, atau 9 Ramadhan 1364 maka barulah cukup terbukti kenyataan dari Proklamasi itu setelah Jendral Soedirman tampil kemedan perjuangan dengan senjata beserta anak buahnya di tiap tiap medan laga.
Pembangunan Karo
Penulis: Budi D. Sinulingga, Sukaria Sinulingga
In Sosial, 300 - Ilmu Sosial , Sosiologi dan Antropologi, Buku
Dalam kampanye Pilpres 2014 pasangan Jokowi-JK merancang sembilan program prioritas yang disebut Nawacita. Konsep ini disebut Jokowi berpedoman kepada Trisakti Bung Karno. Dalam sejarah yang linier Nawacita bisa dipahami merupakan perpanjangan dari Trisakti Soekarno yang macet di tengah jalan. Konsep Trisakti dilahirkan Soekarno di tengah- tengah iklim revolusi Indonesia yang dijalankan di tengah gencatan dua kekuatan besar: Amerika Serikat dan Uni Soviet dan dua ideologi besar : liberalisme dan komunisme.
Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan
Penulis: Drs. A.St. Iskandar
In Sejarah dan Geografi, 900 - Sejarah, Buku
Di kota- kota besar diseluruh tanah air kita akan menemui jalan yang bernama Jalan Dr. Sutomo. Bahkan di kota kota kecilpun kita menjumpai jalan bernama Jalan Dr. Sutomo. Siapakah Dr.Sutomo itu?. Dr. Sutomo adalah seorang pahlawan yang mempelopori pergerakan kebangsaan Indonesia. Selain dari pemimpin pergerakan, Dr. Sutomo terkenal dikalangan kedokteran dan wartawan. Beliau lahir tangal 30 Juli 1888 di desa Ngapeh, Jawa Timur. Pada waktu kecil Sutomo bernama Subroto. Ayahnya bernama Raden Suwaji, seorang bangsawan yang termuka. Raden Suwaji, masa itu menjabat sebagai wedana Maospati, Madiun.
Medan, Banjir Bebas Dimana-mana
Penulis: Jaya Arjuna
In Sosial, 360 - Masalah dan Layanan Sosial, Buku
Medan dinyatakan sebagai Parijs van Soematra. Parijs adalah kota yang besar dan dibesarkan oleh Sungai Seine. Kondisi yang sama, Medan memiliki Sungai Deli untuk dimanfaatkan menjadikannya besar dan memberi manfaat bagi masyarakatnya dari segi ekologis dan ekonomis. Begitulah,Medan memang dirancang sebagai duplikat Parijs. Medan dirancang sebagai Kota Bebas Banjir. Selain untuk kebutuhan tanaman perkebunan agar tidak terendam air, juga untuk kenyamanan masyarakat penghuninya. Medan sudah difasilitasi oleh hampir 200 km saluran drainase buatan.
Mengenal Sang Naualuh Damanik Sebagai Pejuang
Penulis: M.D. purba
In Sejarah dan Geografi, 920 - Biografi dan Asal - Usul, Buku
Sang Naualuh Damanik adalah Raja Siantar yang dihukum oleh Pemerintah Kolonial Belanda dengan "buangan politik" tanpa batas waktu ke Bengkalis pada tahun 1906 sampai meninggal dunia disana tahun 1914 karena menantang Pemerintah Belanda. Kerajaan Siantar adalah salah satu dari "Raja Maroppat" (Empat Kerajaan) zaman dahulu di daerah Simalungun. Empat Kerajaan tersebut adalah: 1. Kerajaan Dolok Silau, 2. Kerajaan Panei, 3. Kerajaan Siantar, dan 4. Kerajaan Tanah Jawa. Empat Kerajaan ini masing- masing berdiri sendiri selama kurang lebih 400 tahun (abad XVI- XIX). Walaupun berdiri sendiri, mereka selalu musyawarah untuk keseragaman pemerintahan, adat istiadat, kebudayaan, dan lain- lain bidang aspek kehidupan.
KEARIFAN LOKAL KESUSASTRAAN BATAK TOBA BERBASIS BUDAYA
Penulis: Awaluddin Sitorus
Tapanuli terbagi atas Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, dan Tapanuli Tengah. Tapanuli Utara disebutlah itu Batak Toba, Tapanuli Selatan disebutlah Angkola maupun Mandailing, sedangkan Tapanuli Tengah perpaduan Batak Toba, Batak Mandailing, Melayu, Minang. Di sisi lain yang berkerabat dengan Tapanuli Utara yakni Batak Simalungun, Batak Angkola, Batak Mandailing, Batak Karo, dan Batak Pakpak. Selanjutnya, sastra dan budaya Tapanuli terkhusus Batak Toba dapat digambarkan dalam ungkapan para orang tua terlebih dahulu seperti "ansit do na halion so dapotan jambar juhut, alai hansitan dope na so dapotan jambar hata", artinya sangat menyakitkan jika seseorang tidak mendapatkan bagian dalam pembagian daging, tetapi lebih sakit lagi jika seseorang tidak mendapatkan kesempatan untuk berbicara dalam pesta adat istiadat.
Medan Menuju Kota Metropolitan
Penulis: Bayo Suti
In Sosial, 300 - Ilmu Sosial , Sosiologi dan Antropologi, Buku
Setiap kota mengalami proses perkembangan dan proses "ketuaan" yang saling berlawanan satu dengan dengan yang lainnya. Namun manusia, warga kot boleh menjadi "tua", tetapi bagaimana daya upaya kota harus tetap "muda". Iklim perkotaan dan Kotamadyaan mempunyai fungsi khusus yaitu sebagai kota yang merupakan pusat fasilitas yang menunjang perkembangan daerah lainnya. Dengan demikian pembangunan kota harus diberikan watak yang manusiawi dan alami. Artinya supaya tetap dijaga dan dipelihara kelestarian kwalitas hidup yang seimbang dengan pesatnya pembangunan kota.
Pangupa
Penulis: Ir. L.P. Hasibuan
In Sosial, 390 - Norma , Etika dan Tradisi, Buku
Adat istiadat memegang peranan yang penting dalam tata-krama hidup dan kehidupan bangsa Indonesia pada umumnya. Setiap suku ataupun Puak mempunyai adat- istiadat tersendiri berbeda yang satu dengan yang lain. Walau berbeda namun tujuan dan sasaran sama, yaitu berdaya guna untuk mendidik masyrakat berbudi luhur, versopan- santun, berkasih- sayang, dan berbuat baik terhadap sesama anggota masyarakat. Khusu untuk masyrakat dari suku yang berada di Tapanuli Selatan adat- istiadat itu begitu rumit dan kompleks aturan-aturanny, tidak lain disebabkan adat istiadat itu mencakup mengatur segi-segi kehidupan masyarakat itu sendiri.
Tarombo
Penulis: Ch. Sutan Tinggibarani Perkasa Alam
In Sosial, 390 - Norma , Etika dan Tradisi, Buku
Sebelum dilanjutkan penulisan Tarombo Marga- Marga ini, ada hal- hal yang menjadi perhatian bagi kita. Sejak tahun 70-an saya mulai menulis menganai Adat dan Budaya Batak khususnya Tapanuli Selatan. Turun kelapangan mengadakan penelitian. Mengunjungi desa- desa, mengadakan pertemuan dengan orang- orang tua, tokoh- tokoh Adat dan raja- raja pimpinan masyarakat adat. Begitu juga membaca buku-buku, majalah, koran, dan mas media lainnya, serta mengikuti seminar, dan loka karya dan turut serta dalam pelaksanaan upacara- upacara adat dan kesenian tradisional.