Adat dan Tata Cara Perkawinan Masyarakat Pakpak
(0 User reviews)
16
979 612 109 3
-
2002
Cetakan Pertama I, 2002
107
IDN
Medan, Indonesia
Ada beberapa alasan penuiis, kenapa bụku penting untuk dipublikasikan. Pertama,ini kurangnya pubiikasi tentang budaya- budaya lokal di Sumatera Utara. Kedua, kurangnya referensi tentang masalah budaya Pakpak. Ketiga, kurangnya perhatian semua pihak terhadap dunia tulis menulis, terutama yang menyangkut masalah budaya etnis. Dan keempat semakin kurangnya praktek adat perkawinan tersebut di kalangan orang Pakpak sendiri terutama di perkotaan dan bagi orang Pakpak yang kawin antaretnis (amalgamas).
Ada beberapa alasan penuiis, kenapa bụku penting untuk dipublikasikan. Pertama,ini kurangnya pubiikasi tentang budaya- budaya lokal di Sumatera Utara. Kedua, kurangnya referensi tentang masalah budaya Pakpak. Ketiga, kurangnya perhatian semua pihak terhadap dunia tulis menulis, terutama yang menyangkut masalah budaya etnis. Dan keempat semakin kurangnya praktek adat perkawinan tersebut di kalangan orang Pakpak sendiri terutama di perkotaan dan bagi orang Pakpak yang kawin antaretnis (amalgamas). Tentang yang tersebut terakhir, ada indikasi yang menyatakan bahwa adat perkawinan Pakpak tersebut : rumit atau sulit, tidak ekonomis, tidak populer atau dianggap kuno dan kurangnya kesadaran identitas. Anggapan aggapan ini muncul tentu dipengaruhi karena kurangnya pengetahuan, kurangnya pemahaman, kurangnya kesadaran akan pentingnya identitas, kurangnya publikasi, mudahnya berasimilasi dan tingginya tingkat perkawinan antar etnis di kalangan orang Pakpak. Banyak orang Pakpak misalnya yang tidak risih menggunakan adat etnis lain dalam pelaksanaan perkawinan keluarganya malah kadang mereka mengaku dengan identitas marga etnis lain. Buku ini secara khusus menyajikan bentuk upacara perkawinan yang dianggap ideal oleh umumnya orang Pakpak, yakni perkawinan Sitari-tari atau merbayo atau sering juga disebut memuat mende. Namun demikian secara ringkas dijelaskan juga bentuk-bentuk perkawinan lainnya